Penyebab Ledakan Kasus Corona Kudus

Data terakhir di Kudus, per 2 Juni tercatat 1.243 kasus aktif. Ada beberapa hal yang menyebabkan kasus penularan di Kudus melonjak tajam. Mulai dari kondisi pasien ternyata keluarga corona menunggu hingga haji usai Lebaran. Penanganan yang kurang baik juga memperparah kondisi di Kudus.

Di sini, seperti dilansir kumparan dengan sejumlah kondisi yang memicu ledakan kasus suci corona, adapun pembelajaran penanganan pandemi corona bisa maksimal kedepannya.

Pasien Corona Ditemani Keluarga

Yang jelas virus corona bisa menular dengan mudah dan harus dipahami masyarakat. Sayangnya, banyak orang di Kudus seolah-olah mengabaikan potensi ini.

Lemahnya standar operasional prosedur ini dinilai menjadi salah satu biang keladi lonjakan kasus ke-19 di Kudus. Hal itu juga diakui Kepala Dinas Kesehatan Jateng Yulianto Prabowo.
Ia meminta masyarakat menyerahkan langsung kepada tenaga medis dalam merawat keluarga positif corona, tanpa memandang usia maupun kondisinya.

“Bisbol tidak boleh menunggu atau besok. Harus dipatuhi meski ditekan kanan kiri. Namanya saja harus isolasi saja. Hanya perawat yang sudah dilengkapi APD untuk mengurus keluarga menunggu di rumah,” kata Yulianto.

Ziarah Kubur serta Silaturahim Lebaran

Penyebab lain meroketnya kasus corona disinyalir disebabkan jemaah haji yang dilakukan masyarakat pada saat Idul Fitri, bahkan dengan tingginya silaturahim kepada tetangga dan keluarga. Hal itu diungkapkan Kapolda Jawa Tengah Irjen Pol Ahmad Lutfi.

“Pengunjung tempat wisata bertambah, dan pengunjung makam (ziarah kubur) yang tak terbendung,” demikian pernyataan Lutfi, Kamis (27/5).

Kasus Corona Kudus Tidak Ditangani dengan Baik

Gugus Tugas COVID-19 Penanganan panggilan nasional di corona Suci tidak berjalan dengan baik. Sebab, Kudus yang sebelumnya berzona jingga, usai Lebaran masuk kategori zona merah.

Dia juga meminta daerah-daerah untuk belajar dari Kudus dan isu-isu zonasi mengimbau risiko penularan corona tidak boleh dianggap remeh.

“Kita dapat belajar dari Kudus bahwa selama 3 minggu terakhir berada di zona oranye, dan karena tidak tertangani dengan baik maka wilayah tersebut pindah ke zona merah. Itu potensi besar terutama di 322 kabupaten/kota yang berada di zona merah. oranye saat ini,” kata Wiku dalam siaran pers di YouTube virtual BNPB, Jumat (4/6).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*